Bagi penyuka film kartun, mungkin
tak pernah sedikit-pun melewatkan film Mu Lan, seorang gadis yang merubah dirinya menjadi
seorang “laki-laki” maju ke medan perang. Yang mematik keunikan disini adalah
ketika Mu Lan menjadi seorang ksatria, dia ditemani oleh seekor naga kecil yang
tingkah laku serta kalimatnya selalu mengundang tawa. Dalam bagian lain,
penulis memandang film ini laiknya memiliki keutamaan nilai persahabatan dan rasa
cinta kasih. Korelasinya adalah tradisi Tahun Baru China atau Imlek yang sudah
menjadi image terkini bagi warga metropolis Surabaya memang tidak selalu
dikaitkan dengan: kue bulan, buah apel yang
dijadikan sebuah simbol kedamaian (pingguo),
ikan (yu), atau-pun menghormati
kepada pemberi kehidupan (bai gui). Tapi
memang gerakan liak liuk naga dalam tari Barongsai, yang diterangi oleh lampu
lampion dengan bertabur bunyi petasan maupun angpao bagi penulis justru lebih mendominasi. Persahabatan dan kasih
sayang untuk saling melindungi yang ditampilkan oleh kedua sahabat tersebut tentu
saja menjadi spirit pelengkap atas hadirnya hari cinta kasih (Valentine) yang
perayaannya juga bersamaan dengan Imlek di bulan Februari. Pun demikian, terlepas
dari waktunya yang hampir bersamaan atau tidak yang jelas khazanah dari kedua
perayaan tersebut adalah bukti anugerah dari Tuhan yang patut untuk disyukuri.